Pernahkah Anda membuka TikTok atau X (Twitter) dan melihat video lucu dengan judul seperti “Lebaran Core”, “Kuli Core”, atau “Bapak-bapak Core”?
Jika Anda bingung apa maksudnya, Anda tidak sendirian. Kata “Core” saat ini sedang menjadi bahasa gaul yang sangat viral di Indonesia.
Secara sederhana, “Core” dalam bahasa gaul artinya adalah inti, esensi, atau ciri khas paling unik dari suatu momen atau kelompok orang.
Istilah ini dipakai untuk merangkum kejadian-kejadian lucu atau “random” yang sangat menggambarkan suasana peristiwa tersebut.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu tren “Core”, dari mana asalnya, dan contoh-contoh populernya agar Anda tetap update.
Apa Itu “Core” dalam Bahasa Gaul?
Secara harfiah, kata core diambil dari bahasa Inggris yang berarti “inti” atau “bagian tengah”.
Namun, di media sosial Indonesia, maknanya bergeser menjadi sedikit lebih spesifik dan humoris.
Kata ini digunakan untuk menyoroti keotentikan atau realita tanpa filter dari sebuah subjek.
Jadi, ketika ada video berjudul “Bekasi Core”, isinya bukan profil kota Bekasi yang serius.
Melainkan, video tersebut berisi kumpulan kejadian unik, panas terik, kemacetan, atau hal konyol yang “Bekasi banget”.
Intinya, “Core” adalah label untuk menunjukkan “Inilah wujud aslinya” dengan nada bercanda.
Asal Usul Tren “Core”
Sebenarnya, penggunaan akhiran “-core” bukanlah hal baru di internet global.
Awalnya, istilah ini populer di dunia fashion dan estetika Barat.
Contoh yang paling terkenal adalah Cottagecore (gaya hidup pedesaan yang estetik) atau Normcore (gaya berpakaian yang sengaja terlihat biasa saja).
Di sana, “-core” digunakan untuk mendefinisikan sebuah genre estetika yang spesifik.
Namun, netizen Indonesia yang kreatif mengadaptasi istilah ini menjadi bahan komedi.
Pergeserannya cukup menarik:
- Di Barat: Core = Estetika serius (contoh: Retrocore).
- Di Indonesia: Core = Momen konyol dan relate (contoh: Wisuda Core).
Sekarang, kata ini lebih sering dipakai untuk menertawakan realitas kehidupan sehari-hari yang absurd.
Contoh Penggunaan “Core” yang Paling Populer
Agar Anda semakin paham, berikut adalah beberapa varian “Core” yang sering mondar-mandir di FYP (For You Page) TikTok:
1. Lebaran Core
Ini adalah rajanya konten “Core” di Indonesia. Biasanya muncul saat Hari Raya Idulfitri.
Isinya adalah kompilasi video orang-orang yang mengenakan baju shimmer menyilaukan, toples nastar yang susah dibuka, atau tingkah laku bocah yang berebut THR.
Semua kejadian “kacau” tapi seru saat Lebaran masuk dalam kategori ini.
2. Bapak-bapak Core
Kategori ini khusus menyoroti tingkah laku bapak-bapak Indonesia yang khas.
Contohnya: bapak-bapak yang tertidur saat rapat warga, guyonan garing di grup WhatsApp, atau cara mereka memelihara burung perkutut dengan penuh kasih sayang.
3. Jurusan/Profesi Core
Sering dipakai mahasiswa atau pekerja. Misalnya “Arsitek Core”.
Isinya bukan desain gedung megah, tapi momen mahasiswa begadang 3 hari tidak mandi, revisi dosen yang tidak masuk akal, atau maket yang hancur terinjak kucing.
4. Daerah Core
Seperti contoh “Bekasi Core” atau “Madura Core”.
Ini menonjolkan stereotip unik dari suatu daerah yang biasanya hanya dipahami oleh warga lokalnya, namun lucu bagi semua orang.
Kenapa Istilah Ini Bisa Viral Banget?
Ada alasan psikologis sederhana kenapa tren ini meledak, yaitu faktor “Relate”.
Manusia cenderung menyukai konten yang mencerminkan pengalaman pribadinya.
Ketika Anda melihat video “Skripsi Core” dan isinya adalah laptop not responding, Anda akan merasa terwakili.
Perasaan “senasib sepenanggungan” inilah yang membuat orang ramai-ramai menekan tombol like dan share.
Selain itu, formatnya yang pendek dan to the point sangat cocok dengan algoritma media sosial saat ini.
Anda tidak perlu menonton video panjang untuk paham lucunya; cukup 5 detik cuplikan momen, dan Anda langsung mengerti.
Cara Menggunakan Kata “Core” Biar Nggak Salah
Ingin ikut meramaikan tren ini? Caranya gampang-gampang susah.
Kunci utamanya adalah observasi.
Berikut tips singkatnya:
- Pilih Topik: Tentukan momen apa yang ingin Anda bahas (misal: Rapat Kantor).
- Cari Sisi Unik/Lucu: Jangan rekam momen seriusnya. Rekam momen saat proyektor mati atau bos salah sebut nama.
- Gabungkan: Tambahkan akhiran “Core”. Jadilah “Meeting Core”.
Ingat, tujuannya adalah hiburan. Hindari menggunakan istilah ini untuk hal-hal yang sensitif atau menyinggung SARA.
Gunakan untuk menertawakan kejadian sehari-hari yang ringan saja.
Realitas Kita Adalah “Core” Terbaik
Kata “Core” bukan sekadar bahasa Inggris yang berarti inti.
Di tangan netizen Indonesia, ia berubah menjadi alat untuk merayakan momen-momen receh, jujur, dan manusiawi di sekitar kita.
Jadi, jika besok Anda mengalami kejadian sial seperti ban bocor saat hujan, jangan sedih.
Anggap saja Anda sedang membuat konten “Apes Core” Anda sendiri.
