Setiap kali ada demo yang berujung ricuh, kata “anarkis” hampir pasti muncul di berita dan media sosial. Tapi, tahukah Anda bahwa anarkis adalah istilah untuk penganut paham anarkisme atau orang yang melakukan tindakan anarki. Ini berbeda jauh dari gambaran umum yang menyamakannya dengan perusuh atau pembuat onar.
Kesalahpahaman ini sudah begitu meluas, sehingga banyak yang keliru menggunakan istilah ini. Padahal, anarkisme sebagai sebuah paham politik punya sejarah dan gagasan yang jauh lebih dalam daripada sekadar aksi perusakan fasilitas umum.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu anarkis, anarki, dan anarkisme secara jernih dan sederhana. Mari kita luruskan pemahaman yang salah kaprah dan melihat makna sebenarnya di balik stigma yang melekat.
Membedah Istilah: Anarki, Anarkis, Anarkisme, dan Anarkistis
Agar tidak bingung, penting untuk membedakan keempat istilah yang terdengar mirip ini. Masing-masing punya makna spesifik.
Anarki: Kondisi Tanpa Penguasa
Secara etimologis, “anarki” berasal dari bahasa Yunani anarchos, yang berarti “tanpa penguasa” atau “tanpa pemerintahan”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan anarki sebagai kondisi tidak adanya pemerintahan, undang-undang, atau ketertiban.
Dalam teori politik, anarki adalah cita-cita masyarakat yang bisa mengatur dirinya sendiri secara teratur tanpa perlu adanya negara atau otoritas yang memaksa. Namun, dalam penggunaan sehari-hari, kata ini sering diartikan sebagai kekacauan total.
Anarkis: Sang Penganut Paham
Seperti yang sudah disebut, anarkis adalah orangnya. Mereka adalah individu atau kelompok yang menganut dan memperjuangkan paham anarkisme. Analogi sederhananya seperti “pianis” untuk orang yang bermain piano, atau “komunis” untuk penganut paham komunisme.
Anarkisme: Ideologi Politiknya
Anarkisme adalah paham atau ajaran politik yang menolak setiap kekuatan negara dan segala bentuk hierarki yang menindas. Kaum anarkis percaya bahwa manusia pada dasarnya baik dan mampu hidup damai serta bekerja sama secara sukarela tanpa perlu diatur oleh pemerintah.
Tujuan anarkisme bukanlah menciptakan kekacauan, melainkan tatanan sosial yang berlandaskan kebebasan individu, solidaritas, dan kemandirian.
Anarkistis: Kata Sifatnya
Nah, ini yang sering tertukar. “Anarkistis” adalah kata sifat yang berarti “bersifat anarki”. Jadi, yang benar adalah “tindakan anarkistis” (tindakan yang bersifat anarki), bukan “tindakan anarkis”. Mengatakan “demonstran itu anarkis” bisa benar jika merujuk pada orangnya, tetapi jika merujuk pada tindakannya, lebih tepat menggunakan “tindakan anarkistis”.
Mengapa Anarkis Selalu Dicap Negatif?

Stigma negatif terhadap anarkisme bukanlah hal baru dan terjadi di seluruh dunia. Di Indonesia, ada beberapa alasan mengapa label “anarkis” hampir selalu identik dengan kerusuhan.
Warisan Orde Baru
Rezim Orde Baru secara sistematis memberangus semua pemikiran kiri, termasuk komunisme dan sosialisme. Dalam prosesnya, istilah “anarki” dibakukan sebagai sinonim untuk kerusuhan dan kriminalitas, sebuah warisan yang terus berlanjut hingga kini.
Alat Delegitimasi Protes
Pemerintah dan aparat keamanan sering menggunakan label “anarkis” atau “anarkistis” untuk menggambarkan demonstrasi yang diwarnai kekerasan. Strategi ini efektif untuk beberapa tujuan:
- Memberi legitimasi pada aparat untuk melakukan tindakan represif.
- Mengalihkan fokus publik dari substansi tuntutan demonstran ke isu keamanan.
- Menciptakan “musuh imajiner” untuk memecah solidaritas publik dan melemahkan gerakan protes.
Dengan melabeli perusuh sebagai “anarkis”, negara seolah memisahkan mereka dari “rakyat baik-baik” yang berdemo secara damai. Akibatnya, legitimasi moral para demonstran langsung terkikis di mata publik.
Fakta Menarik: Jejak Anarkisme di Indonesia Sejak Zaman Kolonial

Mungkin banyak yang tidak tahu, anarkisme memiliki jejak sejarah yang panjang di Indonesia, bahkan sebelum kemerdekaan. Paham ini hadir bersamaan dengan nasionalisme dan komunisme sebagai bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Salah satu jejak awalnya dapat ditemukan dalam novel legendaris Max Havelaar (1860) karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli. Buku ini berisi kritik pedas terhadap kebrutalan sistem kolonial dan menginspirasi banyak pemikir anti-kolonial, termasuk yang berhaluan anarkis.
Perjuangan Multatuli bahkan dilanjutkan oleh cucunya, Ernest Douwes Dekker, yang juga seorang pejuang kemerdekaan. Selain itu, beberapa tokoh pergerakan, seperti Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia, juga pernah menjalin kontak dengan para anarkis di Belanda saat menempuh pendidikan di sana. Ini menunjukkan bahwa anarkisme di Indonesia pada awalnya adalah sebuah gerakan intelektual untuk melawan penindasan, bukan sekadar aksi jalanan tanpa arah.
Apa Saja Prinsip Dasar Kaum Anarkis?
Meskipun ada banyak aliran dalam anarkisme, beberapa prinsip fundamental menjadi benang merahnya. Kaum anarkis pada umumnya memperjuangkan:
- Penolakan Otoritas: Menentang segala bentuk pemerintahan, negara, dan struktur hierarkis yang dianggap menindas.
- Kebebasan Individu: Menjunjung tinggi hak setiap individu untuk mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan pihak luar.
- Solidaritas & Saling Bantu: Percaya bahwa tatanan sosial dapat dibangun melalui kerja sama sukarela dan kepedulian terhadap sesama, bukan paksaan.
- Anti-Penindasan: Melawan berbagai bentuk penindasan, seperti kapitalisme, rasisme, dan fasisme.
- Aksi Langsung: Menerapkan gagasan secara langsung untuk mencapai perubahan sosial, tanpa bergantung pada perantara seperti politisi atau birokrasi.
Kesimpulan: Membaca di Balik Label
Jadi, anarkis adalah seorang penganut paham anarkisme, sebuah ideologi politik kompleks yang memperjuangkan masyarakat bebas tanpa negara. Penggunaannya sebagai label untuk perusuh adalah sebuah penyempitan makna yang sering kali bermuatan politis.
Dengan memahami perbedaan antara anarki, anarkis, dan anarkisme, kita bisa lebih kritis dalam menerima informasi. Kita jadi tahu bahwa di balik citra negatif yang sering ditampilkan media, terdapat sejarah panjang pemikiran dan perjuangan untuk sebuah tatanan sosial yang dianggap lebih adil. Lain kali Anda mendengar kata “anarkis”, cobalah bertanya: apakah yang dimaksud adalah pelakunya, pahamnya, atau sekadar label untuk mendiskreditkan sebuah gerakan?
