Saat hujan tak kunjung turun, sumber air mulai menipis dan lahan mengering, umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat istisqa. Salat sunnah ini menjadi ikhtiar untuk memohon hujan kepada Allah SWT.
Shalat istisqa bukan sekadar salat meminta hujan. Ibadah ini juga mengajak umat untuk bertobat, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan lebih peduli terhadap sesama serta lingkungan.
Pada 2026, shalat istisqa digelar di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak kemarau dan karhutla. Mulai dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jakarta, hingga berbagai kabupaten lain, masyarakat, pemerintah daerah, dan pengurus masjid melakukan doa bersama.
BMKG juga mencatat kondisi kering yang dominan pada Agustus 2026. Sebanyak 90,79% wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah pada Dasarian I Agustus, sementara 76,5% wilayah telah memasuki musim kemarau.
Jadi, jika Anda mencari penjelasan lengkap tentang shalat istisqa, artikel ini membahas pengertian, hukum, niat, tata cara, doa, serta makna ibadahnya secara ringkas dan mudah dipahami.
Apa Itu Shalat Istisqa?
Secara bahasa, istisqa berarti meminta air atau meminta curahan air. Dalam istilah fikih, shalat istisqa adalah salat sunnah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan.
Umat Islam biasanya melaksanakan shalat ini saat hujan lama tidak turun. Dampaknya dapat terasa pada kebutuhan air bersih, pertanian, peternakan, kualitas udara, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa shalat istisqa termasuk salat sunnah muakkadah, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW juga pernah melaksanakan salat ini bersama para sahabat.
Mengapa Shalat Istisqa Banyak Digelar pada 2026?
Kemarau 2026 membawa tekanan besar bagi sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menyatakan El Niño telah berada pada kategori kuat, dengan peluang mencapai 98%, sehingga berpotensi menurunkan curah hujan terutama di wilayah selatan khatulistiwa saat puncak kemarau.
Pada pertengahan Agustus 2026, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kondisi kering. Curah hujan rendah meliputi 90,79% wilayah Indonesia pada Dasarian I Agustus.
Kondisi itu memicu kekeringan dan karhutla di sejumlah daerah. Di Kalimantan Selatan, misalnya, Pemprov menggelar shalat istisqa di Masjid Raya Sabilal Muhtadin karena kemarau meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Di Jakarta, Masjid Agung Al-Azhar juga menggelar shalat istisqa pada 1 September 2026. Kegiatan itu diikuti ratusan pelajar dan pengajar sebagai ikhtiar menghadapi kekeringan, sulitnya air bersih, dan karhutla.

Hukum Shalat Istisqa
Hukum shalat istisqa adalah sunnah muakkadah. Artinya, ibadah ini sangat dianjurkan bagi umat Islam saat membutuhkan hujan.
Shalat istisqa dapat dilakukan secara berjamaah di lapangan terbuka atau masjid. Pelaksanaannya tidak memakai azan dan iqamah.
Selain salat khusus, umat Islam juga dapat memanjatkan doa istisqa saat khutbah Jumat. Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menyebut khatib dan jamaah dianjurkan mengangkat tangan lebih tinggi ketika memanjatkan doa meminta hujan.
Niat Shalat Istisqa
Berikut niat shalat istisqa sebagai imam atau makmum:
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini mustaqbilal-qiblati imāman/ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat melaksanakan salat sunnah istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”
Niat cukup dihadirkan dalam hati ketika takbiratul ihram. Bacaan niat membantu seseorang menegaskan tujuan ibadahnya.
Tata Cara Shalat Istisqa
Tata cara shalat istisqa memiliki kemiripan dengan salat Id. Kemenag menyebut pelaksanaannya dilakukan dua rakaat, dengan tambahan takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua.
Persiapan sebelum shalat istisqa
Sebelum shalat, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal baik.
Beberapa anjuran yang sering disampaikan ulama meliputi:
- Bertobat dan meninggalkan perbuatan maksiat.
- Memperbanyak istighfar.
- Bersedekah dan membantu orang yang terdampak kekeringan.
- Menjaga hubungan baik dengan sesama.
- Berpuasa sunnah selama tiga hari sebelum pelaksanaan, jika mengikuti anjuran yang digunakan dalam pedoman Kemenag.
Jamaah juga dianjurkan memakai pakaian sederhana. Shalat istisqa sebaiknya menjadi momentum kerendahan hati, bukan acara seremonial.
Pelaksanaan shalat dua rakaat
Berikut urutannya:
- Jamaah berkumpul, idealnya di lapangan terbuka atau halaman masjid.
- Imam memimpin salat tanpa azan dan iqamah.
- Jamaah membaca niat shalat istisqa.
- Pada rakaat pertama, imam bertakbir tujuh kali setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah.
- Imam melanjutkan bacaan Al-Fatihah, surah Al-Qur’an, rukuk, sujud, dan seterusnya.
- Pada rakaat kedua, imam bertakbir lima kali sebelum membaca Al-Fatihah.
- Imam menyelesaikan salat seperti salat dua rakaat biasa dan menutupnya dengan salam.
Khutbah setelah shalat
Setelah salat, khatib menyampaikan khutbah. Khutbah istisqa umumnya terdiri dari dua bagian, seperti khutbah Id.
Isi khutbah berfokus pada ajakan bertobat, beristighfar, memperbaiki perilaku, menjaga lingkungan, dan memohon hujan yang membawa manfaat.
Dalam tradisi yang banyak digunakan di Indonesia, khatib memperbanyak istighfar. Khatib juga dapat menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, lalu membalik posisi selendang atau sorbannya sebagai simbol perubahan keadaan.
Doa Memohon Hujan
Salah satu doa istisqa yang ringkas adalah:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Latin:
Allahumma aghitsnā, Allahumma aghitsnā, Allahumma aghitsnā.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Doa lain yang juga dikenal luas berbunyi:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Latin:
Allahummasqinā ghaisan mughītsan marī’an nāfi‘an ghaira dhārrin, ‘ājilan ghaira ājil.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyegarkan, bermanfaat, tidak membahayakan, segera dan tidak terlambat.”
Doa tersebut penting karena umat Islam tidak hanya memohon hujan, tetapi memohon hujan yang membawa rahmat dan tidak menimbulkan bencana.
Perbedaan Tata Cara Menurut Pendapat Ulama
Tata cara shalat istisqa memiliki beberapa perbedaan pendapat fikih. Perbedaan ini wajar dan tidak mengurangi sahnya ibadah.
| Aspek | Praktik yang umum diikuti di Indonesia | Pendapat lain |
|---|---|---|
| Tambahan takbir | Tujuh kali pada rakaat pertama, lima kali pada rakaat kedua | Sebagian ulama melaksanakan seperti salat sunnah dua rakaat biasa |
| Lokasi | Lapangan terbuka atau masjid | Keduanya dibolehkan |
| Khutbah | Umumnya setelah salat | Ada pendapat yang membolehkan sebelum salat |
| Bentuk ibadah | Salat dua rakaat dan khutbah | Doa istisqa dapat dilakukan tanpa salat, termasuk dalam khutbah Jumat |
Kemenag menggunakan tata cara yang menyerupai salat Id, yaitu tujuh dan lima takbir tambahan. Sementara Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menyebut shalat istisqa dapat dilakukan dua rakaat tanpa takbirat zawāid, seperti salat Jumat.
Karena itu, sebaiknya jamaah mengikuti imam dan pedoman lembaga keagamaan setempat agar pelaksanaan berjalan tertib.
Shalat Istisqa Harus Disertai Ikhtiar Nyata
Shalat istisqa tidak menggantikan langkah pencegahan bencana. Ibadah ini justru memperkuat kesadaran bahwa doa perlu berjalan bersama tindakan nyata.
Pemerintah dan masyarakat tetap perlu menghemat air, menjaga sumber air, mencegah pembakaran lahan, melapor saat menemukan titik api, dan mendukung petugas pemadam di lapangan.
BMKG secara khusus mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut, semak, dan hutan yang mudah terbakar.
Di Kalimantan Selatan, penanganan karhutla juga mencakup pembasahan kawasan rawan kebakaran, distribusi air, edukasi masyarakat, serta pemantauan kualitas udara.
Dengan kata lain, shalat istisqa adalah ikhtiar batin, sedangkan penghematan air, pemadaman api, dan perlindungan lingkungan adalah ikhtiar lahir.
Shalat Istisqa sebagai Ikhtiar Bersama
Shalat istisqa adalah salat sunnah untuk memohon hujan ketika kekeringan melanda. Ibadah ini dilakukan dua rakaat, biasanya berjamaah, lalu dilanjutkan khutbah, istighfar, dan doa memohon hujan yang bermanfaat.
Kemarau dan karhutla 2026 membuat shalat istisqa kembali menjadi ikhtiar bersama di berbagai wilayah Indonesia. MUI, DMI, pemerintah daerah, masjid, sekolah, dan masyarakat menghidupkan ibadah ini sebagai bentuk doa sekaligus introspeksi.
Namun, shalat istisqa harus berjalan bersama kepedulian lingkungan. Hemat air, jangan membakar lahan, bantu warga terdampak, dan ikuti peringatan resmi cuaca agar ikhtiar kita lebih lengkap.
