Beras fortifikasi sedang ramai dibicarakan. Produk ini hadir sebagai beras dengan tambahan vitamin dan mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian.
Namun, banyak orang masih menganggap beras fortifikasi sama dengan beras biasa. Padahal, keduanya memiliki perbedaan utama pada proses produksi dan kandungan gizinya.
Secara sederhana, beras fortifikasi adalah beras sosoh yang dicampur dengan kernel beras fortifikan. Kernel ini berbentuk seperti butiran beras, tetapi sudah diperkaya zat gizi tertentu.
Sementara itu, beras biasa hanya mengandalkan kandungan gizi alami dari beras. Kandungannya dapat berbeda berdasarkan jenis beras, proses penggilingan, dan pengolahannya.
Jadi, beras fortifikasi bukan obat atau suplemen. Produk ini tetap termasuk pangan, tetapi memiliki tambahan mikronutrien yang diatur melalui standar tertentu.
Apa Itu Beras Fortifikasi?
Beras fortifikasi merupakan beras yang mendapat tambahan vitamin dan mineral melalui proses khusus.
Produsen mencampurkan beras sosoh dengan kernel beras fortifikan. Kernel tersebut dibuat menyerupai butiran beras agar dapat tercampur dan dikonsumsi bersama nasi.
Fortifikasi membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro melalui makanan pokok. Cara ini tidak mengharuskan masyarakat mengubah kebiasaan makan secara drastis.
Beras dipilih karena lebih dari 90 persen penduduk Indonesia mengonsumsinya. Karena itu, beras bisa menjadi media yang efektif untuk menjangkau banyak orang.
Kandungan Gizi Beras Fortifikasi
Berdasarkan SNI 9372:2025, beras fortifikasi harus memenuhi kandungan gizi tertentu dalam setiap 100 gram produk.
| Zat gizi | Ketentuan per 100 gram |
|---|---|
| Vitamin B1 | Minimal 0,25 mg |
| Asam folat | 0,25–0,38 mg |
| Vitamin B12 | 1–1,5 mikrogram |
| Zat besi | 3,50–5,25 mg |
| Seng | 3–4,5 mg |
Setiap zat gizi memiliki fungsi yang berbeda.
- Vitamin B1 membantu proses metabolisme energi.
- Asam folat mendukung pembentukan DNA dan pembelahan sel.
- Vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf.
- Zat besi membantu pembentukan hemoglobin.
- Seng mendukung pertumbuhan dan fungsi sistem imun.
Kandungan tersebut memberi nilai tambah pada beras. Namun, beras fortifikasi tetap tidak menggantikan pola makan beragam.
Perbedaan Beras Fortifikasi dan Beras Biasa
Perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa terlihat dari beberapa aspek berikut.
| Aspek | Beras fortifikasi | Beras biasa |
|---|---|---|
| Proses produksi | Dicampur dengan kernel beras fortifikan | Tidak mendapat tambahan melalui proses fortifikasi |
| Kandungan gizi | Memiliki vitamin dan mineral tambahan | Mengandalkan kandungan alami beras |
| Standar khusus | Mengacu pada SNI 9372:2025 | Mengikuti standar beras sesuai kategorinya |
| Tujuan | Membantu meningkatkan asupan mikronutrien | Menjadi sumber energi dan pangan pokok |
| Harga | Bisa lebih mahal karena proses dan klaim tambahan | Lebih bervariasi sesuai jenis dan kualitas |
Beras fortifikasi juga berbeda dari beras biofortifikasi.
Beras biofortifikasi memperoleh peningkatan zat gizi melalui pemuliaan tanaman atau proses agronomis. Sementara itu, beras fortifikasi mendapat tambahan zat gizi setelah beras diproses.
Apakah Beras Fortifikasi Lebih Sehat?
Beras fortifikasi dapat membantu menambah asupan vitamin dan mineral. Manfaat ini terutama relevan bagi masyarakat yang berisiko mengalami kekurangan mikronutrien.
Namun, beras fortifikasi tidak otomatis lebih sehat dalam semua kondisi. Tubuh tetap membutuhkan protein, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral dari berbagai jenis pangan.
Pola makan sebaiknya tetap mencakup:
- Nasi atau sumber karbohidrat lain.
- Ikan, telur, daging, atau kacang-kacangan.
- Sayur dan buah.
- Air yang cukup.
Beras biasa juga tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat. Tidak adanya tambahan fortifikasi tidak berarti beras tersebut tidak layak atau tidak bergizi.
Mengapa Beras Fortifikasi Perlu Diawasi?
Produk dengan label fortifikasi harus memiliki kandungan sesuai klaim pada kemasan.
Pada September 2026, pemerintah menemukan 25 dari 27 merek yang diperiksa diduga tidak memenuhi ketentuan kandungan dan mutu beras fortifikasi.
Masalahnya bukan berarti seluruh beras fortifikasi berbahaya. Pemerintah perlu memastikan bahwa produk yang memakai klaim fortifikasi benar-benar memenuhi standar, keamanan, mutu, dan izin edar.
Pengawasan juga penting karena harga beras fortifikasi bisa jauh lebih tinggi. Beberapa produk bahkan dilaporkan dijual hingga Rp57.000 per kilogram.
Jika kandungan gizinya tidak sesuai, konsumen membayar lebih mahal tanpa memperoleh manfaat yang dijanjikan.
Daftar 25 Merek Beras Fortifikasi yang Ditarik dari Peredaran
Pemerintah menemukan 25 merek beras fortifikasi yang diduga tidak memenuhi standar kandungan dan mutu sesuai label kemasan. Produk tersebut diperintahkan menghentikan produksi dan ditarik dari peredaran. Hingga minggu pertama September 2026, 12 merek telah ditarik, sementara sisanya masih dalam proses penarikan.

Berikut daftar 25 merek beras fortifikasi yang ditarik dari peredaran:
- Idola Fortifikasi
- Idola High Quality Whole Grain Rice
- Idola Long Grain Rice
- Ikan Mas Cupang
- AAA Wijaya Kusuma
- Cantik Manis
- Penari Bangkok
- Topi Koki Short Grain
- Topi Koki Setra Royale
- Topi Koki Long Grain Crystal
- HOK-1 Gohan
- Maknyuss Pulen Gizi
- Anak Raja Fortifikasi
- Anak Raja Nusantara
- Top Anak Raja
- PMS Induk Ayam
- Sumo
- Rasvit
- FS Nutri Rice
- Pelikan
- Rice Rojolele
- Super Kepala Beras Premium 111
- 111 Golden Number
- Putri Koki
- Wellfarm Beras Diabet
Mengapa Produk Ini Ditarik?
Pemerintah menduga produk-produk tersebut tidak memenuhi persyaratan kandungan dan mutu berdasarkan SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan serta SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi.
Temuan utamanya berkaitan dengan ketidaksesuaian antara kandungan gizi dalam produk dan klaim yang tercantum pada label kemasan. Namun, statusnya masih berupa dugaan pelanggaran, bukan putusan pengadilan terhadap setiap merek.
Konsumen sebaiknya memeriksa pengumuman terbaru dari Bapanas, Kementerian Pertanian, dan otoritas keamanan pangan sebelum membeli atau mengonsumsi produk yang tercantum dalam daftar tersebut.
Cara Memilih Beras Fortifikasi
Konsumen bisa memperhatikan beberapa hal sebelum membeli.
1. Periksa label produk
Pastikan kemasan mencantumkan nama produk, kandungan gizi, identitas produsen, dan informasi izin edar.
2. Cari standar yang berlaku
Beras fortifikasi perlu memenuhi ketentuan SNI 9372:2025. Kernel beras fortifikan juga memiliki standar tersendiri melalui SNI 9314:2024.
3. Jangan hanya melihat klaim pemasaran
Tulisan “mengandung vitamin” belum tentu berarti produk tersebut memenuhi standar beras fortifikasi. Periksa informasi nilai gizi dan keterangan resmi pada kemasan.
4. Bandingkan harga secara wajar
Harga tinggi tidak selalu menunjukkan kualitas lebih baik. Beras fortifikasi idealnya memberikan manfaat gizi yang sebanding dengan harga yang dibayar.
Cara Mencuci Beras Fortifikasi
Beras fortifikasi tetap perlu dicuci sebelum dimasak. Namun, proses pencucian sebaiknya tidak terlalu kuat.
Pakar gizi menyarankan konsumen menuangkan air, membolak-balik beras secara perlahan, lalu membuang airnya. Satu kali pencucian sudah cukup.
Hindari meremas atau mencuci berulang kali. Proses tersebut dapat mengurangi vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin B1, vitamin B12, dan asam folat.
Mineral seperti zat besi dan seng cenderung lebih stabil selama proses pengolahan.
Kesimpulan
Beras fortifikasi adalah beras sosoh yang dicampur dengan kernel beras fortifikan. Produk ini mengandung tambahan vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng sesuai standar yang berlaku.
Perbedaan utamanya dengan beras biasa terletak pada proses produksi dan kandungan gizi tambahan. Beras biasa mengandalkan kandungan alami beras, sedangkan beras fortifikasi mendapat tambahan mikronutrien.
Beras fortifikasi bisa menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi. Namun, konsumen tetap perlu memilih produk berlabel jelas, memiliki izin edar, dan memenuhi standar.
Yang paling penting, tetap konsumsi makanan beragam. Beras fortifikasi bukan pengganti lauk, sayur, buah, atau pola makan seimbang.
