Pernah dengar Asesmen Nasional? Mungkin Anda langsung teringat pada Ujian Nasional (UN) yang dulu sering membuat cemas. Namun, keduanya sangat berbeda. Jika UN berfokus pada hasil individu siswa sebagai syarat kelulusan, Asesmen Nasional memiliki tujuan yang lebih luas dan mendasar.
Asesmen Nasional (AN) adalah program evaluasi yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Ini bukanlah ujian kelulusan, melainkan cara untuk memotret kesehatan sistem pendidikan kita, dari input, proses, hingga output pembelajaran di setiap sekolah . AN menandai perubahan paradigma evaluasi pendidikan, dari yang semula mengukur capaian individu menjadi evaluasi sistem untuk perbaikan berkelanjutan.
Apa Itu Asesmen Nasional (AN)? Sebuah Perubahan Paradigma
Pada dasarnya, Asesmen Nasional dirancang bukan untuk menghakimi atau memeringkatkan sekolah, melainkan untuk menjadi alat refleksi. Hasilnya, yang disebut Rapor Pendidikan, berfungsi sebagai “cermin” yang membantu sekolah dan pemerintah daerah melihat kekuatan serta area yang perlu diperbaiki.
Fokus utamanya adalah mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan di tingkat sekolah, madrasah, dan program kesetaraan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas proses belajar-mengajar sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan karakter murid secara holistik.
Siapa Saja Pesertanya?
Berbeda dengan UN yang diikuti seluruh siswa di tingkat akhir, peserta AN dipilih secara acak oleh Kemendikbudristek. Ketentuannya adalah sebagai berikut:
- Siswa: Peserta adalah siswa kelas 5 SD/MI (maksimal 30 orang), kelas 8 SMP/MTs (maksimal 45 orang), dan kelas 11 SMA/MA/SMK (maksimal 45 orang). Pemilihan jenjang ini bertujuan agar siswa yang menjadi peserta dapat merasakan langsung perbaikan pembelajaran berdasarkan hasil asesmen saat mereka masih bersekolah di sana.
- Guru dan Kepala Sekolah: Seluruh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan wajib mengikuti AN, khususnya Survei Lingkungan Belajar.
Tiga Pilar Utama Asesmen Nasional
Informasi mutu pendidikan diperoleh dari tiga instrumen utama yang saling melengkapi. Ketiga instrumen ini memberikan potret utuh mengenai kualitas hasil belajar dan proses pembelajaran di sekolah.
1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)
AKM mengukur dua kompetensi mendasar yang dibutuhkan semua murid, terlepas dari mata pelajaran yang mereka tekuni.
- Literasi Membaca: Kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks untuk mengembangkan kapasitas individu dan berkontribusi di masyarakat.
- Numerasi: Kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari dalam berbagai konteks.
AKM tidak menguji penguasaan konten mata pelajaran, melainkan kecakapan berpikir logis-sistematis dan bernalar.
2. Survei Karakter
Instrumen ini dirancang untuk mengukur hasil belajar sosial-emosional siswa. Survei ini memotret sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter murid. Aspek yang diukur selaras dengan enam profil Pelajar Pancasila, yaitu:
- Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia
- Berkebinekaan global
- Bergotong royong
- Mandiri
- Bernalar kritis
- Kreatif
Pengukuran karakter ini penting karena pendidikan bertujuan mengembangkan potensi murid secara utuh, baik kognitif maupun non-kognitif.
3. Survei Lingkungan Belajar
Survei ini diikuti oleh siswa, guru, dan kepala sekolah untuk mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di satuan pendidikan. Beberapa hal yang diukur antara lain kualitas pembelajaran di kelas, iklim keamanan dan inklusivitas sekolah, serta kepemimpinan instruksional kepala sekolah.
Tujuan Mulia di Balik Asesmen Nasional
Secara garis besar, Asesmen Nasional memiliki beberapa tujuan utama yang saling terkait untuk mendorong transformasi pendidikan:
- Meningkatkan Mutu Pendidikan: Tujuan utamanya adalah menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.
- Memantau Perkembangan Mutu: AN berfungsi untuk melihat perkembangan mutu pendidikan dari waktu ke waktu.
- Mengidentifikasi Kesenjangan: Membantu melihat kesenjangan yang terjadi di dalam sistem pendidikan, misalnya antar kelompok sosial-ekonomi, antar sekolah negeri dan swasta, atau antar daerah.
- Memberi Umpan Balik: Menjadi dasar bagi sekolah dan dinas pendidikan untuk melakukan evaluasi diri dan perencanaan program perbaikan melalui Rapor Pendidikan.
- Mendorong Fokus pada Kompetensi dan Karakter: Menunjukkan bahwa tujuan utama sekolah adalah pengembangan kompetensi literasi, numerasi, dan karakter murid.
Jadwal Asesmen Nasional 2025: Kapan Pelaksanaannya?
Pelaksanaan Asesmen Nasional tahun 2025 akan berlangsung dalam rentang waktu beberapa bulan, mencakup tahap simulasi, gladi bersih, hingga pelaksanaan utama. Berikut adalah rincian jadwal pentingnya berdasarkan jenjang pendidikan.
| Kegiatan | Jenjang | Tanggal |
|---|---|---|
| Simulasi AN | Semua Jenjang | 21–24 Juli 2025 |
| Gladi Bersih AN | SMA/MA, SMK/Sederajat | 28–31 Juli 2025 |
| Pelaksanaan AN | SMA/MA, SMK/Sederajat | 4–7 Agustus 2025 |
| Gladi Bersih AN | SMP/MTs/Sederajat | 18–21 Agustus 2025 |
| Pelaksanaan AN | SMP/MTs/Sederajat | 25–28 Agustus 2025 |
| Gladi Bersih AN (Tahap 1 & 2) | SD/MI/Sederajat | 8–18 September 2025 |
| Pelaksanaan AN (Tahap 1) | SD/MI/Sederajat | 22–25 September 2025 |
Jadwal di atas merupakan rangkuman dan dapat berubah sesuai kebijakan resmi dari Kemendikbudristek.
Seperti Apa Soal-Soal Asesmen Nasional? Yuk, Intip Contohnya!
Soal-soal dalam Asesmen Nasional, khususnya pada komponen AKM, dirancang untuk menguji kemampuan bernalar dan berpikir kritis, bukan sekadar hafalan. Bentuk soalnya pun beragam, mulai dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (jawaban benar lebih dari satu), menjodohkan, isian singkat, hingga uraian.
Berikut adalah beberapa contoh untuk memberikan gambaran.
Contoh Soal Literasi (Tingkat SMA)
Bacalah kutipan berikut:
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. (Diadaptasi dari “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K).
Pertanyaan: Tema yang diangkat pada teks di atas adalah berkaitan dengan…
A. Keluarga si tokoh utama mencintai budaya Belanda
B. Tokoh utama bukan orang Belanda
Contoh Soal Numerasi (Tingkat SMP)
Perhatikan informasi berikut:
Tinggi tumpukan 2 piring adalah 6 cm. Tinggi tumpukan 3 piring adalah 10 cm.
Pertanyaan: Jika ada 20 piring ditumpuk, maka tingginya adalah ….
A. 55 cm
B. 58 cm
C. 61 cm
D. 64 cm
Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa siswa dituntut untuk memahami konteks, menganalisis informasi, dan menerapkan konsep untuk menemukan jawaban.
Sebagai kesimpulan, Asesmen Nasional adalah sebuah langkah maju dalam upaya evaluasi pendidikan di Indonesia. Ia tidak lagi menempatkan siswa sebagai objek yang dihakimi kelulusannya, melainkan sebagai bagian dari sistem yang terus-menerus diperbaiki.
Dengan fokus pada kompetensi fundamental dan karakter, AN menjadi alat strategis untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan relevan untuk masa depan.
