Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada 5–6 September 2026. Erupsi ini mengganggu aktivitas warga dan penerbangan, termasuk di Bandara Soekarno-Hatta.
Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi mencatat erupsi menerus mulai 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai cahaya merah, lava fountain, suara gemuruh, dan dentuman.
Sebaran abu bergerak mengikuti arah angin. BMKG mengidentifikasi dua klaster abu dengan ketinggian berbeda, yakni hingga 20.000 kaki ke arah timur laut–selatan dan hingga 50.000 kaki ke arah barat daya–barat laut.
Abu vulkanik kemudian terasa di sejumlah wilayah, termasuk pesisir Banten, Bandar Lampung, Lampung Selatan, Tangerang Selatan, Sukabumi, Bandung, hingga sebagian Jakarta.
Partikel abu dapat mengganggu pernapasan, membuat mata perih, dan menempel pada kulit. Karena itu, warga perlu membatasi aktivitas luar ruangan serta mengikuti informasi resmi pemerintah.
Dampak erupsi juga terasa di sektor penerbangan. Penutupan sementara sejumlah bandara dan pembatalan penerbangan dilakukan untuk menjaga keselamatan penumpang serta awak pesawat.
Kronologi Erupsi Gunung Anak Krakatau
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali berlangsung sejak 2 Juli 2026. Sejak saat itu, status gunung berada pada Level III atau Siaga.
Pada 4–5 September, erupsi terjadi berulang kali. Pos pengamatan mencatat aktivitas letusan sejak malam hingga dini hari.
Erupsi menerus mulai terpantau pada 5 September pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut masih berlangsung hingga setidaknya pukul 04.40 WIB pada 6 September, dengan suara gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran.
Badan Geologi menyebut fenomena itu menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Erupsi jenis ini menghasilkan aliran lava, lontaran batu pijar, dan abu vulkanik.

Apakah Erupsi Ini Berpotensi Menimbulkan Tsunami?
Badan Geologi menyatakan tubuh Gunung Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Evaluasi sementara tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
BMKG juga melaporkan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan anomali muka air laut hingga pukul 07.00 WIB pada 6 September 2026.
Meski begitu, masyarakat tetap harus mengikuti arahan resmi. Perubahan aktivitas vulkanik dan morfologi gunung terus dipantau secara intensif.
Wilayah yang Terdampak Abu Vulkanik
Sebaran abu berubah mengikuti arah dan kecepatan angin. BMKG mencatat dua klaster utama pada 6 September 2026.
| Ketinggian sebaran | Arah pergerakan | Wilayah terdampak |
|---|---|---|
| Hingga 20.000 kaki | Timur laut–selatan | Sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitar |
| Hingga 50.000 kaki | Barat daya–barat laut | Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia |
Data BMKG berasal dari pemantauan PVMBG, VAAC Darwin, dan citra satelit Himawari-9.
Di daratan, warga melaporkan abu menempel pada rumah, kendaraan, jalan, dan fasilitas umum. Sejumlah warga juga mengalami mata perih serta tenggorokan tidak nyaman.
Abu vulkanik bahkan membuat jarak pandang pengendara berkurang. Pemerintah daerah mengingatkan warga agar lebih berhati-hati saat berkendara.
Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan
Abu vulkanik bukan debu biasa. Material ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil.
Partikelnya keras dan tajam. Saat terhirup, abu dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, serta saluran pernapasan.
Gejala yang mungkin muncul antara lain:
- Batuk.
- Tenggorokan kering atau terasa sakit.
- Hidung berair.
- Mata perih dan berair.
- Sesak napas pada kondisi tertentu.
- Iritasi atau gatal pada kulit.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan gangguan pernapasan perlu meningkatkan kewaspadaan.
Menteri Kesehatan mengimbau warga menjaga tiga bagian tubuh yang paling rentan, yaitu mata, kulit, dan saluran pernapasan.
Jika mengalami gangguan pernapasan, warga dapat mendatangi puskesmas terdekat. Kementerian Kesehatan menyebut fasilitas kesehatan telah menyiapkan oksigen konsentrator, nebulizer, obat tetes mata, dan salep kulit.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik
1. Gunakan Masker dan Kacamata
Pakai masker pelindung, terutama masker bersertifikasi seperti N95, saat harus keluar rumah. Gunakan kacamata untuk melindungi mata dari partikel abu.
Jangan mengucek mata jika terasa perih. Segera bilas mata dengan air bersih.
2. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Tetap berada di dalam ruangan selama hujan abu berlangsung. Tutup pintu, jendela, ventilasi, dan celah masuk udara dari luar.
Jangan menyalakan perangkat yang menarik udara dari luar, seperti AC dengan mode udara luar.
3. Bersihkan Abu dengan Cara Aman
Gunakan kain lembap untuk membersihkan abu di dalam rumah. Hindari menyapu kering atau memakai penyedot debu karena cara tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan.
Basahi sedikit tumpukan abu di luar rumah sebelum menyapu atau menyekopnya. Namun, jangan membasahi abu tebal di atap dengan banyak air karena berat tambahan dapat membebani struktur atap.
4. Waspadai Air dan Makanan
Tutup sumber air terbuka agar tidak tercemar abu. Cuci buah dan sayuran dengan air bersih mengalir sebelum dikonsumsi.
5. Berkendara dengan Hati-Hati
Abu dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin. Hindari berkendara saat hujan abu.
Jika harus bepergian, gunakan helm atau kacamata pelindung, nyalakan lampu kendaraan, kurangi kecepatan, dan jaga jarak aman.
Dampak Erupsi terhadap Penerbangan
Abu vulkanik sangat berbahaya bagi pesawat. Partikel abu dapat mengikis kaca kokpit, badan pesawat, dan bilah kompresor mesin.
Pada suhu tinggi di dalam mesin jet, material silikat pada abu dapat meleleh. Material tersebut kemudian menempel di bagian mesin dan menurunkan kinerja hingga menyebabkan hilangnya daya dorong.
Karena risiko ini, otoritas menerbitkan SIGMET dan NOTAM untuk memperingatkan maskapai serta menyesuaikan operasional penerbangan.
BMKG menerbitkan 50 SIGMET secara berkala untuk mendukung keselamatan navigasi udara.
Bandara yang Mengalami Penutupan Sementara
Empat bandara sempat ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik, yaitu:
- Bandara Soekarno-Hatta.
- Bandara Halim Perdanakusuma.
- Bandara Radin Inten II.
- Bandara Budiarto.
Bandara Soekarno-Hatta ditutup pada 6 September 2026 pukul 01.30–09.30 WIB. Pada periode tersebut, sebanyak 209 pergerakan penerbangan terdampak dan 22.798 penumpang terkena dampaknya.
Rinciannya mencakup 160 penerbangan domestik, 39 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo.
Maskapai melakukan pembatalan, penundaan, pengalihan, serta penjadwalan ulang penerbangan. Penumpang perlu memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara.
Penanganan Pemerintah di Wilayah Terdampak
Pemerintah Kota Bandar Lampung membuka layanan kesehatan di seluruh puskesmas bagi warga yang mengalami keluhan akibat abu vulkanik.
Petugas juga membagikan masker dan mendata warga yang membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan.
Selain itu, pemerintah menyemprot sejumlah ruas jalan setiap tiga jam. Langkah ini bertujuan membasahi abu agar tidak mudah beterbangan dan mengganggu pengguna jalan.
Sekolah juga diminta membersihkan lingkungan belajar serta mengimbau siswa memakai masker ketika kegiatan belajar tetap berlangsung.
Tetap Waspada, Ikuti Informasi Resmi
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar luas akibat erupsi menerus pada 5–6 September 2026. Sebaran material mencapai sejumlah wilayah Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Bengkulu, dan perairan sekitarnya.
Dampaknya meliputi gangguan kesehatan, penurunan jarak pandang, pencemaran permukaan, serta gangguan penerbangan. Otoritas penerbangan menutup sementara beberapa bandara dan menyesuaikan ratusan jadwal penerbangan demi keselamatan.
Warga sebaiknya memakai masker dan kacamata, membatasi aktivitas luar ruangan, menutup ventilasi rumah, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan. Ikuti terus pembaruan dari Badan Geologi, BMKG, BNPB, BPBD, dan maskapai penerbangan.
