Di tengah hiruk pikuk diplomasi tingkat tinggi pada KTT Perdamaian Gaza di Sharm El-Sheikh, Mesir, sebuah nama tak terduga mencuat ke permukaan: Eric Trump. Namanya disebut oleh Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sebuah percakapan pribadi dengan Presiden AS, Donald Trump, yang secara tidak sengaja tertangkap oleh mikrofon yang masih menyala. Insiden ini sontak membuat publik bertanya-tanya, siapa sebenarnya Eric Trump dan mengapa seorang kepala negara ingin menemuinya?
Eric Frederick Trump, lahir pada 6 Januari 1984, adalah putra ketiga Donald Trump dari pernikahan pertamanya dengan Ivana Trump. Berusia 41 tahun, Eric telah lama menjadi figur kunci dalam kerajaan bisnis ayahnya. Ia menjabat sebagai Wakil Presiden Eksekutif The Trump Organization, sebuah konglomerat swasta dengan portofolio properti, hotel, dan lapangan golf di seluruh dunia.
Bersama kakaknya, Donald Trump Jr., Eric mengambil alih kendali operasional harian perusahaan ketika ayah mereka menjabat sebagai presiden pada 2017. Perannya mencakup akuisisi proyek baru, pengembangan, dan konstruksi global. Di bawah kepemimpinannya, The Trump Organization memperluas jejaknya, termasuk restorasi properti golf ikonik seperti Trump Turnberry di Skotlandia dan Trump National Doral di Miami.
Insiden “Mikrofon Bocor” yang Menggemparkan

Momen yang menempatkan Eric Trump dalam sorotan terjadi pada Senin, 13 Oktober 2025. Setelah Presiden Trump menyampaikan pidatonya di KTT, ia dan Presiden Prabowo berbincang di dekat podium. Keduanya tampak tidak menyadari bahwa mikrofon di podium masih aktif dan menyiarkan percakapan mereka ke seluruh ruangan.
Dalam rekaman yang beredar luas, Prabowo terdengar berbicara tentang sebuah lokasi yang “tidak aman secara keamanan” sebelum bertanya langsung kepada Trump.
“Bisakah saya bertemu Eric?” tanya Prabowo.
Trump merespons dengan hangat, “Saya akan meminta Eric menelepon. Haruskah saya lakukan itu? Dia anak yang baik. Saya akan minta Eric menelepon”.
Prabowo kemudian menimpali, “Kita akan cari tempat yang lebih baik,” yang dijawab lagi oleh Trump, “Saya akan meminta Eric menelepon Anda”.
Percakapan singkat itu diakhiri dengan Prabowo menyebutkan alternatif lain: “Eric atau Don Jr.”. Donald “Don” Trump Jr. adalah kakak Eric yang juga menjabat sebagai EVP di The Trump Organization.
Keterkaitan Bisnis Trump dengan Indonesia
Permintaan Prabowo untuk bertemu putra-putra Trump segera memicu spekulasi mengenai konteks bisnis, bukan sekadar obrolan ringan. The Trump Organization memiliki jejak bisnis yang signifikan di Indonesia melalui kemitraan strategis dengan MNC Group, sebuah konglomerat yang dipimpin oleh Hary Tanoesoedibjo.
Kemitraan ini mencakup dua proyek properti mewah:
- Trump International Resort & Golf Club Lido: Terletak di Lido, Jawa Barat, proyek ini merupakan bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Lido City seluas 1.040 hektar. Proyek ini dirancang untuk menjadi resor terintegrasi yang mencakup hotel bintang enam, lapangan golf, dan fasilitas hiburan lainnya.
- Trump International Hotel & Tower Bali: Berlokasi di dekat Pura Tanah Lot, proyek ini direncanakan sebagai resor dan klub golf mewah yang akan menjadi salah satu properti andalan Trump di Asia. Situs web perusahaan mencantumkan proyek ini dengan status “segera hadir”.
Mengingat Eric dan Donald Jr. adalah eksekutif yang bertanggung jawab atas operasional dan pengembangan proyek-proyek ini, permintaan pertemuan oleh Presiden Prabowo dianggap sangat relevan dengan kepentingan investasi tersebut.
Persimpangan Politik dan Bisnis
Insiden ini kembali mengangkat perdebatan lama seputar potensi konflik kepentingan yang melekat pada keluarga Trump, di mana batas antara urusan negara dan bisnis keluarga sering kali kabur. Selama masa kepresidenan pertama ayahnya, Eric Trump pernah berjanji bahwa keluarga mereka akan berhenti melakukan kesepakatan bisnis internasional baru. Namun, fakta menunjukkan bahwa The Trump Organization terus mengoperasikan dan mempromosikan bisnisnya di seluruh dunia.
Ironisnya, Eric Trump pernah mengkritik keras Hunter Biden, putra Presiden Joe Biden, atas tuduhan nepotisme. Namun, para pengamat dan pemeriksa fakta menilai bahwa klaim Eric bahwa keluarganya “keluar dari semua bisnis internasional” adalah tidak benar.
Percakapan di Mesir ini, meskipun singkat, memperkuat persepsi bahwa akses ke lingkaran dalam kekuasaan AS dapat beririsan dengan kepentingan bisnis global. Belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun pihak Indonesia yang menjelaskan secara spesifik tujuan pertemuan yang diminta Prabowo.
Respons Diplomatik dan Implikasi

Menanggapi viralnya video tersebut, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mencoba meredakan situasi. Ia menyatakan bahwa percakapan tersebut adalah hal biasa antara dua pemimpin yang memiliki hubungan dekat.
“Bisa jadi banyak hal yang mereka berdua bicarakan di luar hal-hal yang sifatnya formal kenegaraan, karena keduanya kan teman ya,” ujar Sugiono. Ia menambahkan bahwa Prabowo sering berbincang dengan banyak kepala negara lain di sela-sela acara dan jika ada hal penting yang perlu ditindaklanjuti, ia pasti akan diberi tahu.
Meskipun demikian, insiden ini tetap menjadi catatan penting. Di satu sisi, kedekatan personal antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump dipandang positif untuk hubungan bilateral Indonesia-AS. Trump sendiri beberapa kali memuji Prabowo dan Indonesia secara terbuka, menyebut Indonesia sebagai “negara hebat dan kuat” dalam pidatonya di KTT Gaza.
Di sisi lain, permintaan pertemuan dengan eksekutif bisnis di sela-sela KTT diplomatik menyoroti tantangan dalam menjaga garis pemisah yang jelas antara tugas kenegaraan dan potensi kepentingan komersial, sebuah isu yang terus membayangi panggung politik global saat ini.
