Black Friday adalah hari belanja besar yang berlangsung pada Jumat setelah Thanksgiving di Amerika Serikat. Hari ini secara tradisional dianggap sebagai awal musim belanja Natal dan liburan akhir tahun. Pada momen ini, toko fisik dan e-commerce menawarkan promo besar untuk membuka musim belanja akhir tahun.
Pada Black Friday, peritel menawarkan potongan harga, paket bundling, gratis ongkir, cashback, hingga promosi dengan stok terbatas. Karena berlangsung setelah Thanksgiving, banyak pekerja Amerika juga memiliki waktu libur untuk berbelanja.
Pada 2026, Black Friday jatuh pada Jumat, 27 November 2026. Tradisi ini biasanya berlanjut hingga akhir pekan dan terhubung dengan Cyber Monday pada hari Senin berikutnya.
Dulu, orang mengantre sejak dini hari di depan toko untuk mendapatkan “doorbuster deal”, yaitu promo dengan jumlah barang terbatas. Kini, sebagian besar pengalaman tersebut berpindah ke aplikasi dan situs belanja.
Mengapa Disebut Black Friday?
Ada beberapa cerita yang sering dikaitkan dengan asal-usul istilah Black Friday. Namun, penjelasan yang paling relevan dengan tradisi belanja modern berasal dari Philadelphia pada dekade 1950-an hingga 1960-an.
Istilah dari kemacetan dan keramaian di Philadelphia
Polisi Philadelphia memakai istilah “Black Friday” untuk menggambarkan kondisi kota sehari setelah Thanksgiving.
Jalanan dipenuhi pembeli, wisatawan, dan penonton pertandingan sepak bola Army–Navy. Kemacetan, kepadatan pusat kota, serta kebutuhan pengamanan ekstra membuat hari itu terasa berat bagi petugas.
Awalnya, istilah tersebut bernuansa negatif. Peritel bahkan pernah mencoba menggantinya dengan sebutan “Big Friday”, tetapi istilah baru itu tidak populer.
Makna “merah menjadi hitam” dalam bisnis
Seiring waktu, dunia ritel memberi makna yang lebih positif. Dalam akuntansi, angka merah menggambarkan kerugian, sedangkan angka hitam menunjukkan laba.
Karena penjualan meningkat tajam menjelang Natal, Black Friday lalu dipromosikan sebagai hari ketika bisnis “beralih dari merah ke hitam”. Meski populer, penjelasan ini lebih tepat disebut sebagai narasi pemasaran yang menguat setelah istilah tersebut sudah dikenal luas.
Mitos yang perlu diluruskan
Black Friday tahun 1869 adalah istilah untuk krisis pasar emas Amerika Serikat akibat spekulasi Jay Gould dan Jim Fisk. Peristiwa tersebut memang disebut Black Friday, tetapi bukan asal langsung dari tradisi diskon setelah Thanksgiving.
Cerita bahwa Black Friday terkait diskon perdagangan budak juga tidak didukung bukti sejarah yang kuat. Karena itu, pembaca perlu berhati-hati terhadap narasi viral yang mencampurkan fakta sejarah dengan mitos.
Perkembangan Black Friday: Dari Antrean Toko ke Belanja Digital
Black Friday telah berubah besar dalam dua dekade terakhir. Diskon tidak lagi terbatas pada satu hari, satu toko, atau satu negara.

Peritel kini menjalankan program seperti Black Week, Black November, hingga promo awal sebelum Thanksgiving. Pola ini membuat transaksi lebih tersebar dan mengurangi ketergantungan pada kerumunan satu hari.
Pandemi COVID-19 juga mempercepat pergeseran ke belanja online. Banyak peritel besar menghentikan pembukaan toko pada Hari Thanksgiving dan memperluas promo digital.
Black Friday dan Cyber Monday
Cyber Monday adalah hari Senin setelah Thanksgiving yang fokus pada penawaran belanja online. Jika Black Friday awalnya identik dengan toko fisik, Cyber Monday tumbuh sebagai simbol kuat e-commerce.
Saat ini, batas keduanya semakin tipis. Konsumen dapat membeli produk secara online sejak sebelum Black Friday, lalu melanjutkan belanja hingga Cyber Monday.
| Momen | Waktu | Ciri utama |
|---|---|---|
| Black Friday | Jumat setelah Thanksgiving | Diskon besar di toko fisik dan online |
| Small Business Saturday | Sabtu setelah Thanksgiving | Dorongan untuk mendukung usaha kecil dan lokal |
| Cyber Monday | Senin setelah Thanksgiving | Fokus promo e-commerce dan aplikasi |
| Giving Tuesday | Selasa setelah Cyber Monday | Kampanye donasi dan kegiatan sosial |
Black Friday 2025: Rekor Penjualan dan Perubahan Perilaku Konsumen
Black Friday masih sangat kuat sebagai magnet belanja global. Namun, konsumen saat ini lebih banyak membandingkan harga, memakai ponsel, dan mencari penawaran terbaik melalui teknologi.
Di Amerika Serikat, belanja online pada Black Friday 2025 mencapai 11,8 miliar dolar AS, naik 9,1% dibandingkan 2024.
Cyber Monday 2025 bahkan menghasilkan 14,25 miliar dolar AS dalam belanja online. Angka ini menjadikannya salah satu hari belanja digital terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Data penting Black Friday 2025
| Indikator | Hasil |
|---|---|
| Belanja online AS saat Black Friday | 11,8 miliar dolar AS |
| Pertumbuhan belanja online Black Friday | 9,1% dibanding 2024 |
| Total pembeli selama Thanksgiving–Cyber Monday | 202,9 juta orang |
| Pembeli online selama lima hari | 134,9 juta orang |
| Pembeli di toko fisik selama lima hari | 129,5 juta orang |
| Pembeli online Cyber Monday | 75,9 juta orang |
| Pengguna ponsel untuk belanja Cyber Monday | 46,9 juta orang |
Sumber data menunjukkan bahwa 202,9 juta konsumen Amerika berbelanja sepanjang periode lima hari dari Thanksgiving hingga Cyber Monday. Jumlah itu menjadi yang tertinggi sejak pengukuran lima hari tersebut dimulai oleh National Retail Federation pada 2017.
Belanja online tumbuh lebih cepat daripada toko fisik. Namun, toko fisik belum hilang. Selama periode yang sama, 129,5 juta orang tetap berbelanja langsung di toko.
Fakta Menarik: AI Kini Ikut Membantu Orang Berburu Diskon
Black Friday 2025 menandai semakin besarnya peran kecerdasan buatan dalam belanja online.
Konsumen menggunakan chatbot dan alat AI untuk mencari produk, membandingkan harga, menemukan kupon, serta memeriksa pilihan pengiriman. Lalu lintas dari sumber AI menuju situs ritel AS naik 805% dibanding tahun sebelumnya.
Secara global, AI dan agen digital memengaruhi sekitar 14,2 miliar dolar AS penjualan online pada Black Friday 2025. Di Amerika Serikat saja, nilainya mencapai sekitar 3 miliar dolar AS.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pemburu diskon tidak lagi hanya mengandalkan katalog promosi. Mereka juga memakai teknologi untuk mengambil keputusan dengan lebih cepat.
Produk Apa yang Banyak Dibeli Saat Black Friday?
Kategori produk populer berubah setiap tahun, tetapi pola umumnya relatif konsisten: elektronik, pakaian, mainan, produk kecantikan, dan kebutuhan rumah tangga selalu menjadi perhatian besar.
Pada akhir pekan Thanksgiving 2025, produk hadiah yang paling banyak dibeli adalah pakaian dan aksesori, diikuti mainan, buku atau media, serta kartu hadiah.
Produk teknologi juga tetap kuat. Konsumen banyak memburu konsol gim, tablet, headphone, perangkat kebugaran, dan peralatan rumah tangga.
Kategori yang paling diminati
- Pakaian dan aksesori: dibeli oleh 51% konsumen selama periode Thanksgiving 2025.
- Mainan: dibeli oleh 32% konsumen, terutama untuk kebutuhan hadiah akhir tahun.
- Buku dan media: dibeli oleh 28% konsumen dan melampaui kartu hadiah.
- Elektronik: tetap menjadi kategori utama karena diskonnya cenderung lebih besar pada perangkat tertentu.
- Produk kecantikan: parfum dan produk rambut termasuk kategori yang menunjukkan performa kuat pada 2025.
Kontroversi Black Friday yang Perlu Diketahui
Black Friday menawarkan kesempatan berhemat bagi pembeli yang memang membutuhkan barang tertentu. Tetapi skala promosi besar juga menciptakan sejumlah persoalan.
Kontroversinya bukan sekadar soal orang berebut produk di toko. Dampaknya menyentuh pola konsumsi, kondisi kerja, sampah, logistik, dan keuangan rumah tangga.
1. Diskon besar dapat mendorong belanja impulsif
Promosi dengan batas waktu, stok terbatas, dan pesan seperti “hanya hari ini” dirancang untuk menciptakan rasa takut ketinggalan atau fear of missing out.
Survei terhadap 1.293 pembeli di Amerika Serikat menemukan bahwa 42% responden pernah menyesali setidaknya satu pembelian Black Friday. Produk elektronik dan pakaian termasuk barang yang paling sering disesali.
Diskon bukan berarti hemat jika barang yang dibeli tidak dibutuhkan, tidak digunakan, atau dibeli dengan cicilan di luar kemampuan.
2. Harga promo tidak selalu berarti harga terendah
Tidak semua produk pada Black Friday memiliki potongan harga yang paling baik sepanjang tahun. Harga awal dapat berubah, stok promo terbatas, atau diskon berlaku untuk varian tertentu saja.
Cara sederhana untuk menghindari promosi semu:
- Buat daftar barang yang benar-benar dibutuhkan.
- Bandingkan harga di beberapa toko.
- Cek riwayat harga jika tersedia.
- Bandingkan biaya akhir, termasuk ongkir dan biaya layanan.
- Hindari membeli hanya karena ada hitung mundur promo.
3. Dampak lingkungan dari pengiriman dan kemasan
Pertumbuhan e-commerce membuat Black Friday meningkatkan tekanan pada rantai logistik. Setiap pesanan membutuhkan proses pengemasan, pergudangan, transportasi, dan pengiriman ke alamat pelanggan.
Di Inggris, pengiriman terkait Black Friday diperkirakan menghasilkan lebih dari 429.000 metrik ton emisi gas rumah kaca dalam sebuah studi, setara dengan 435 penerbangan pulang-pergi London–New York.
Dampak yang lebih besar sering kali berasal dari produksi barang itu sendiri. Produksi laptop rata-rata dapat menghasilkan sekitar 100–200 kilogram emisi karbon, sedangkan tablet sekitar 50 kilogram.
4. Sampah produk dan kemasan
Diskon besar dapat mendorong pembelian barang murah dengan usia pakai pendek. Produk yang tidak digunakan, dikembalikan, atau cepat rusak akhirnya menambah beban tempat pembuangan dan fasilitas daur ulang.
Sebuah penelitian yang dikutip oleh Deutsche Welle menyatakan bahwa hingga 80% plastik dan tekstil rumah tangga dapat berakhir di tempat pembuangan, insinerasi, atau daur ulang berkualitas rendah.
Masalah ini tidak berarti semua belanja Black Friday buruk. Dampaknya sangat bergantung pada jenis barang, kebutuhan pembeli, kualitas produk, serta berapa lama produk digunakan.
5. Tekanan kerja pada pekerja ritel dan logistik
Di balik paket yang tiba cepat, ada pekerja toko, gudang, pusat distribusi, dan kurir yang menghadapi lonjakan beban kerja.
Pekerja musiman sering masuk ke periode tersibuk dengan pengalaman dan pelatihan yang lebih terbatas. Sebanyak 38% cedera di sektor ritel terjadi pada pekerja tahun pertama, kelompok yang juga banyak mengisi pekerjaan musiman.
Risikonya mencakup kelelahan, cedera akibat mengangkat barang, terpeleset, jatuh, hingga tekanan dari kerumunan pelanggan. Karena itu, keselamatan kerja harus menjadi bagian dari strategi Black Friday setiap peritel.
Black Friday di Indonesia: Apakah Ada?
Indonesia tidak merayakan Thanksgiving, sehingga Black Friday bukan hari libur atau tradisi lokal. Namun, promonya tetap populer karena e-commerce global, marketplace, dan merek internasional.
Banyak konsumen Indonesia mengenal Black Friday sebagai periode promo akhir November, terutama untuk produk teknologi, fesyen, aplikasi digital, langganan perangkat lunak, gim, dan belanja lintas negara.
Indonesia juga memiliki momentum belanja digital sendiri, yaitu Hari Belanja Online Nasional atau Harbolnas, yang umumnya berlangsung pada Desember.
Harbolnas 2025 mencatat nilai transaksi sebesar Rp36,4 triliun, naik 17% dibanding tahun sebelumnya. Produk lokal menyumbang Rp16,6 triliun atau sekitar 45,6% dari total transaksi.
| Aspek | Black Friday | Harbolnas |
|---|---|---|
| Asal | Amerika Serikat | Indonesia |
| Waktu utama | Jumat setelah Thanksgiving | Umumnya Desember |
| Latar belakang | Awal musim belanja liburan | Penggerak transaksi e-commerce nasional |
| Jangkauan | Global | Berfokus pada pasar Indonesia |
| Produk populer | Elektronik, pakaian, mainan, rumah tangga | Fesyen, olahraga, perawatan diri, makanan dan minuman lokal |
Cara Belanja Black Friday dengan Lebih Cerdas
Black Friday dapat menjadi waktu yang tepat untuk membeli barang yang sudah direncanakan, terutama produk bernilai besar seperti elektronik atau kebutuhan rumah tangga.
Kuncinya adalah menjadikan promo sebagai alat, bukan alasan untuk membeli.
Checklist sebelum checkout
- Tentukan anggaran maksimal sebelum melihat promo.
- Buat daftar prioritas barang yang benar-benar diperlukan.
- Periksa spesifikasi, ulasan, dan garansi produk.
- Bandingkan harga dari beberapa penjual.
- Cek apakah diskon berlaku untuk produk yang sama persis.
- Hindari cicilan atau buy now, pay later bila belum menghitung kemampuan membayar.
- Pilih produk yang awet, mudah diperbaiki, atau memiliki nilai pakai jangka panjang.
- Gabungkan pesanan bila memungkinkan untuk mengurangi pengiriman terpisah.
Contoh sederhana
Misalnya, Anda sudah berencana mengganti laptop yang rusak untuk bekerja. Anda telah menentukan spesifikasi, membandingkan harga selama beberapa minggu, dan menemukan produk yang sesuai anggaran dengan garansi resmi.
Dalam situasi ini, Black Friday bisa membantu Anda mendapatkan nilai lebih baik.
Sebaliknya, membeli tiga aksesori murah hanya karena bertuliskan “diskon 70%” bukanlah penghematan jika akhirnya tidak digunakan.
Alternatif Black Friday: Green Friday dan Buy Nothing Day
Tidak semua orang memilih ikut berburu diskon. Sejumlah gerakan menawarkan pendekatan berbeda terhadap konsumsi akhir tahun.
Green Friday mengajak konsumen untuk membeli secara lebih sadar, memilih produk tahan lama, memperbaiki barang, membeli bekas, atau mendukung bisnis lokal.
Sementara itu, Buy Nothing Day adalah gerakan anti-konsumerisme yang mendorong peserta untuk tidak membeli apa pun selama 24 jam. Gerakan ini berlangsung pada hari yang sama dengan Black Friday di Amerika Utara, Inggris, Finlandia, dan Swedia.
Beberapa merek memilih menutup toko, mendukung kegiatan luar ruang, membuka program perbaikan, atau mengajak konsumen menukar barang lama. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan dan keberlanjutan tidak harus selalu bertentangan.
Jadi, apakah Black Friday layak diikuti? Jawabannya sederhana: ya, bila Anda membeli dengan rencana, anggaran, dan kebutuhan yang jelas. Diskon terbaik bukan selalu harga paling rendah, melainkan pembelian yang benar-benar memberi manfaat dalam jangka panjang.
