AnjirNewsAnjirNewsAnjirNews
  • Lifestyle
    • Relationship
    • Beauty
    • Travel
    • Food
    • Finance
    • Job
    • Entertainment
    • Religi
    • Family
  • Education
    • Dictionary
    • Law
    • Culture
  • Health
  • Trending
    • Review
    • Hobbies
    • Pets
    • Auto
    • Techno
    • Bansos
    • Tips
  • Inside
  • Tekno
Font ResizerAa
Font ResizerAa
AnjirNewsAnjirNews
  • Lifestyle
  • Education
  • Health
  • Trending
  • Inside
  • Tekno
Search
  • Lifestyle
    • Relationship
    • Beauty
    • Travel
    • Food
    • Finance
    • Job
    • Entertainment
    • Religi
    • Family
  • Education
    • Dictionary
    • Law
    • Culture
  • Health
  • Trending
    • Review
    • Hobbies
    • Pets
    • Auto
    • Techno
    • Bansos
    • Tips
  • Inside
  • Tekno
Follow US
AnjirNews > Blog > Relationship > Playing Victim: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Menghadapinya
Relationship

Playing Victim: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Menghadapinya

Last updated: 23 Agustus 2026 19:38
Amara Puspita
Published: 23 Agustus 2026
10 Min Read
Share
playing victim
SHARE

Playing victim adalah perilaku ketika seseorang terus menempatkan diri sebagai korban dalam konflik atau masalah, meski ia juga memiliki peran dalam situasi tersebut. Pola ini dapat muncul untuk mencari simpati, menghindari tanggung jawab, atau memengaruhi emosi orang lain. Namun, penting diingat: tidak semua orang yang terluka atau mengeluh sedang playing victim—bisa saja mereka benar-benar mengalami perlakuan tidak adil.

Pernah menghadapi seseorang yang saat dikritik langsung berkata, “Aku selalu disalahkan”? Atau, ketika ia melakukan kesalahan, pembicaraan mendadak berubah menjadi tentang betapa tersakitinya ia?

Situasi seperti ini sering disebut playing victim. Istilahnya populer, tetapi maknanya kerap dipakai terlalu longgar. Karena itu, kita perlu membedakan antara seseorang yang memang menjadi korban dan seseorang yang secara berulang memakai posisi korban untuk menghindari penyelesaian masalah.

Daftar Isi

Toggle
  • Apa Itu Playing Victim?
  • Perbedaan Playing Victim dan Korban yang Sesungguhnya
  • Ciri-Ciri Playing Victim yang Perlu Dikenali
    • 1. Selalu menyalahkan pihak lain
    • 2. Sulit mengakui kesalahan
    • 3. Menggunakan rasa bersalah sebagai alat
    • 4. Lebih suka mengeluh daripada mencari solusi
    • 5. Menganggap kritik sebagai serangan
    • 6. Membesar-besarkan masalah
  • Mengapa Seseorang Bisa Playing Victim?
  • Fakta Menarik: Playing Victim Bisa Diteliti Secara Eksperimental
  • Dampak Playing Victim dalam Hubungan
  • Cara Menghadapi Orang yang Playing Victim
    • Tetap tenang dan jangan terpancing
    • Pegang fakta, bukan drama
    • Tetapkan batasan yang jelas
    • Jangan minta maaf untuk kesalahan yang bukan milik Anda
    • Libatkan pihak ketiga bila diperlukan
  • Jika Anda Merasa Sering Playing Victim
  • Penutup

Apa Itu Playing Victim?

Playing victim adalah pola perilaku ketika seseorang menggambarkan dirinya sebagai pihak yang paling dirugikan, padahal fakta situasinya lebih kompleks. Pola ini bisa terjadi di hubungan asmara, keluarga, pertemanan, hingga tempat kerja.

Seseorang yang menunjukkan pola ini umumnya cenderung:

  • Menyalahkan orang lain atau keadaan.
  • Menghindari pengakuan atas kesalahan sendiri.
  • Memancing rasa kasihan atau rasa bersalah.
  • Menolak solusi, tetapi terus mengulang keluhan.
  • Menganggap masukan sebagai serangan pribadi.

Perlu digarisbawahi, playing victim bukan diagnosis gangguan jiwa. Ini adalah istilah umum untuk menggambarkan pola pikir dan perilaku tertentu.

playing victim adalah
Ilustrasi playing victim

Perbedaan Playing Victim dan Korban yang Sesungguhnya

Kesalahan paling berbahaya adalah memakai istilah playing victim untuk meremehkan orang yang benar-benar mengalami kekerasan, perundungan, pengabaian, atau perlakuan tidak adil.

Baca Juga:  Apa Itu Affiliate? Panduan Lengkap Cara Kerja, Contoh, dan Cara Memulainya

Korban yang sesungguhnya berhak mendapatkan perlindungan, dukungan, dan kepercayaan. Sebaliknya, playing victim terlihat dari pola berulang dalam berbagai konflik, terutama ketika seseorang menolak bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

AspekKorban yang sesungguhnyaPlaying victim
Dasar masalahAda tindakan merugikan, kekerasan, atau ketidakadilan nyataNarasi korban dipakai secara berulang untuk menghindari tanggung jawab
Respons terhadap faktaCenderung terbantu oleh validasi dan perlindunganBisa menolak fakta yang tidak mendukung narasinya
Fokus utamaKeselamatan, pemulihan, dan keadilanSimpati, pembenaran, atau kontrol atas respons orang lain
Pola perilakuTidak otomatis muncul di semua situasiSering muncul lintas konflik dan hubungan

Jadi, jangan langsung memberi label hanya dari satu pertengkaran. Perhatikan pola, konteks, bukti, serta dampaknya terhadap orang-orang di sekitar.

Ciri-Ciri Playing Victim yang Perlu Dikenali

1. Selalu menyalahkan pihak lain

Saat terjadi masalah, ia langsung mencari kambing hitam. Rekan kerja, pasangan, keluarga, situasi, bahkan “nasib” selalu dianggap sebagai penyebab utama.

Ia jarang berkata, “Saya juga punya andil di sini.” Padahal, pengakuan terhadap peran sendiri adalah awal dari penyelesaian konflik.

2. Sulit mengakui kesalahan

Permintaan maaf sering terdengar seperti ini: “Maaf, tapi kamu juga membuat aku marah.”

Kalimat tersebut bukan bentuk tanggung jawab penuh. Fokusnya justru dialihkan agar kesalahan kembali menjadi milik orang lain.

3. Menggunakan rasa bersalah sebagai alat

Pelaku playing victim dapat membuat orang lain merasa bersalah agar menuruti keinginannya. Misalnya, “Setelah semua yang aku lakukan untukmu, kamu masih tega menolak?”

Pola ini dikenal sebagai guilt-tripping. Dampaknya, lawan bicara merasa harus mengalah demi menghentikan drama atau konflik.

4. Lebih suka mengeluh daripada mencari solusi

Mengeluh sesekali adalah hal yang wajar. Namun, polanya menjadi tidak sehat ketika seseorang menolak setiap saran, lalu kembali mengulang masalah yang sama.

Mereka tampak ingin didengar, tetapi tidak ingin kondisi berubah. Ini membuat orang di sekitarnya lelah secara emosional.

5. Menganggap kritik sebagai serangan

Umpan balik yang netral dapat dipersepsikan sebagai penghinaan. Ia lalu membalikkan keadaan: dari pihak yang perlu dievaluasi menjadi pihak yang merasa disakiti.

Baca Juga:  Arti Feeling Lonely: Memahami Perasaan Kesepian dan Dampaknya dalam Hubungan

Respons defensif seperti ini membuat diskusi sulit berkembang menjadi solusi.

6. Membesar-besarkan masalah

Masalah kecil dapat diceritakan dengan sangat dramatis agar terlihat sebagai ketidakadilan besar. Tujuannya bisa untuk menarik perhatian atau memperkuat posisi sebagai pihak yang paling menderita.

Mengapa Seseorang Bisa Playing Victim?

Pola ini tidak selalu muncul karena niat manipulatif yang sepenuhnya sadar. Pada sebagian orang, victim mentality dapat berkaitan dengan pengalaman sulit, trauma, pengkhianatan berulang, harga diri rendah, atau cara menghadapi stres yang kurang sehat.

Penelitian tentang Tendency for Interpersonal Victimhood atau TIV menggambarkan kecenderungan merasa sebagai korban dalam hubungan interpersonal. Konstruk ini mencakup empat dimensi: kebutuhan agar status korban diakui, rasa superioritas moral, rendahnya empati terhadap penderitaan orang lain, dan kecenderungan terus-menerus merenungkan pengalaman buruk.

Namun, memahami kemungkinan penyebab bukan berarti membenarkan perilakunya. Trauma dapat menjelaskan asal suatu pola, tetapi tanggung jawab untuk tidak menyakiti atau memanipulasi orang lain tetap penting.

Fakta Menarik: Playing Victim Bisa Diteliti Secara Eksperimental

Istilah playing victim tidak hanya dibahas di media sosial. Sebuah studi eksperimen oleh Zafer Akin pada 2022 menguji perilaku mengaku sebagai korban demi memperoleh kompensasi yang sebenarnya tidak berhak diterima.

Dalam desain penelitian tersebut, peserta dapat mengajukan kompensasi setelah sebagian dari mereka mengalami kerugian acak. Hasilnya, mayoritas peserta tetap mengajukan kompensasi meski tidak mengalami kerugian. Penandatanganan komitmen kejujuran terbukti menurunkan perilaku tersebut secara substansial.

Temuan ini tidak berarti mayoritas orang dalam kehidupan nyata adalah pelaku playing victim. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketika klaim korban sulit diverifikasi dan ada keuntungan yang dapat diperoleh, risiko penyalahgunaan status korban memang meningkat.

Dampak Playing Victim dalam Hubungan

Jika dibiarkan, pola ini dapat merusak hubungan secara perlahan.

  • Kepercayaan menurun, karena fakta sering dipelintir demi narasi tertentu.
  • Komunikasi menjadi tidak seimbang, sebab satu pihak selalu harus menenangkan dan meminta maaf.
  • Konflik berlarut-larut, karena akar masalah tidak pernah dibahas.
  • Orang terdekat mengalami kelelahan emosional, terutama jika terus dibuat merasa bersalah.
  • Pelaku sulit berkembang, karena tidak belajar dari kesalahan dan terus mengulang pola yang sama.
Baca Juga:  Manfaat Pace dalam Lari, Cara Menghitung, dan Meningkatkannya

Dalam relasi yang ekstrem, pemutarbalikan fakta dan tekanan emosional dapat mengarah pada kekerasan emosional. Karena itu, batasan yang sehat sangat penting.

Cara Menghadapi Orang yang Playing Victim

Tetap tenang dan jangan terpancing

Reaksi emosional yang berlebihan justru dapat dipakai untuk memperkuat narasi bahwa Anda “menyerang” mereka. Ambil jeda sebelum membalas.

Gunakan nada tegas, singkat, dan fokus pada isu yang sedang dibahas.

Pegang fakta, bukan drama

Sampaikan peristiwa secara spesifik. Hindari debat mengenai label seperti “kamu manipulatif” atau “kamu selalu jadi korban.”

Contohnya:

“Saya ingin membahas tugas yang belum selesai kemarin. Kita perlu menentukan langkah penyelesaiannya, bukan saling menyalahkan.”

Pendekatan berbasis fakta membantu pembicaraan tetap terarah.

Tetapkan batasan yang jelas

Empati tidak sama dengan membiarkan diri terus disalahkan. Anda boleh menyatakan batasan seperti:

  • “Saya bersedia membahas masalah ini jika kita sama-sama tenang.”
  • “Saya tidak akan menerima tuduhan tanpa bukti.”
  • “Jika pembicaraan berubah menjadi penghinaan, saya akan mengakhirinya dulu.”

Batasan membuat hubungan lebih aman dan mencegah Anda terseret ke dalam pola rasa bersalah.

Jangan minta maaf untuk kesalahan yang bukan milik Anda

Minta maaf hanya jika Anda memang melakukan kesalahan. Permintaan maaf yang tidak perlu dapat memperkuat pola manipulasi dan membuat Anda kehilangan kejelasan atas tanggung jawab masing-masing.

Libatkan pihak ketiga bila diperlukan

Di lingkungan kerja, simpan catatan komunikasi dan libatkan atasan atau HR jika perilaku tersebut mengganggu pekerjaan tim. Sampaikan dampak konkret terhadap tugas, waktu, dan hasil kerja—bukan penilaian terhadap kepribadian seseorang.

Untuk hubungan pribadi yang penuh tekanan, bantuan psikolog atau konselor dapat membantu membangun pola komunikasi dan batasan yang lebih sehat.

Jika Anda Merasa Sering Playing Victim

Menyadari pola ini bukan tanda bahwa Anda orang buruk. Justru, kesadaran adalah langkah awal untuk berubah.

Mulailah dari beberapa pertanyaan sederhana:

  1. “Apa bagian yang sebenarnya bisa saya kendalikan?”
  2. “Apakah saya sedang mencari solusi atau hanya ingin dibenarkan?”
  3. “Apakah saya sudah mendengar sudut pandang orang lain?”
  4. “Apa satu tindakan kecil yang dapat saya lakukan hari ini?”

Mengenali pemicu, menantang pikiran negatif, membangun tanggung jawab, dan memperkuat self-care dapat membantu seseorang keluar dari pola mentalitas korban.

Jika pola ini berkaitan dengan trauma, kecemasan, depresi, atau konflik hubungan yang berat, konsultasi dengan psikolog atau psikiater merupakan langkah yang tepat.

Penutup

Playing victim adalah pola perilaku yang dapat menguras emosi, merusak kepercayaan, dan menghambat penyelesaian masalah. Tanda utamanya bukan sekadar mengeluh atau merasa sedih, melainkan pola berulang menyalahkan orang lain, menghindari tanggung jawab, serta memakai rasa bersalah untuk mengendalikan situasi.

Sikap terbaik adalah tetap berempati tanpa kehilangan objektivitas. Dengarkan perasaan orang lain, pegang fakta, tetapkan batasan, dan jangan mengabaikan keselamatan emosional diri sendiri.

Apa Itu Patriarki? Pengertian, Contoh, dan Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari
Pengertian Metabolisme, Cara Kerja, dan Faktor yang Memengaruhinya
Manfaat Pace dalam Lari, Cara Menghitung, dan Meningkatkannya
Pengertian Copywriting, Jenis, Tujuan, dan Contohnya
Financial Freedom Bukan Cuma Mimpi, Ini Rumus dan Cara Mencapainya
TAGGED:pengertian
Share This Article
Facebook Threads Copy Link Print
Previous Article metabolisme adalah Pengertian Metabolisme, Cara Kerja, dan Faktor yang Memengaruhinya
Next Article perlinsos kemensos go id Perlinsos Kemensos Go ID: Solusi Digital untuk Daftar PKH dan BPNT Lebih Cepat

Latest News

simbg
Apa Itu SIMBG? Ini Fungsi, Syarat Pengajuan PBG, dan Biayanya
Trending
24 Agustus 2026
perlinsos kemensos go id
Perlinsos Kemensos Go ID: Solusi Digital untuk Daftar PKH dan BPNT Lebih Cepat
Bansos
24 Agustus 2026
taksonomi bloom
Taksonomi Bloom dan 6 Tingkatan Kemampuan Berpikir
Education
23 Agustus 2026
cara cek desil
Cara Cek Desil DTSEN Terbaru Pakai NIK lewat HP Beserta Arti Desilnya
Bansos Uncategorized
22 Agustus 2026
npc adalah
Mengenal Arti NPC di Anime, Game, dan Bahasa Gaul
Dictionary
21 Agustus 2026
wishlist artinya
Wishlist Artinya Apa? Ini Arti, Manfaat, dan Cara Menggunakannya
Lifestyle
20 Agustus 2026
ekspektasi adalah
Memahami Ekspektasi: Arti, Manfaat, dan Cara Mengelolanya
Dictionary
17 Agustus 2026
recovery artinya
Recovery Artinya Apa? Ini Pengertian, dan Contoh Penggunaannya
Dictionary
17 Agustus 2026

You Might Also Like

spam adalah
Techno

Spam Adalah: Arti, Jenis, Contoh, dan Cara Menghindarinya

9 Agustus 2026
backburner adalah
Relationship

Backburner Artinya Apa? Kenali 7 Tanda Kamu Cuma Jadi Cadangan

12 Desember 2025
pic adalah
JobUncategorized

PIC Adalah Person in Charge, Ini Tugas, dan Skill yang Wajib Dimiliki

11 Agustus 2026
skck
Trending

Apa Itu SKCK? Ini Syarat, Biaya, Cara Membuat Online & Offline

12 Agustus 2026

anjirnews
Mengungkap fakta menarik dibalik berita.

Tag Cloud

arti kata asn ayam ayam hias bahasa gaul bahasa jawa bansos bansos sembako bbm bgn bi checking bisnis blt blt kesra bpjs kesehatan bpjs ketenagakerjaan bpnt bri bsu bsu guru kemenag cek bansos cloudflare cng contoh pidato coretax cpns 2026 cuaca dana desil dokumen kependudukan dtsen fenomena alam free fire gaji gaji pns games gaya hidup gopay guru hukum instagram islami istilah kata bijak kesehatan kip kjp plus kks klj komik kpj kumpulan kata kur kur bri liburan lokasi manga manhwa mcd modal usaha motis motivasi mudik muduk gratis nataru nisn npwp pajak pantun paylater pengertian peringatan perlinsos pinjol pip pkh pns ppg pppk presentasi psikologi puasa shopee paylater style surat keterangan tanah tata negara tekno terkaya thr tiktok tpg transfer trigliserida ucapan ump unggas virus nipah whatsapp xiaomi

Navigation

  • Education
  • Trending
  • Lifestyle
  • Bansos
  • Dictionary
  • Family
  • Finance
© 2026 AnjirNews
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Contact
  • Pedoman Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?